Teknik 12 Sept 2017

PWK UIR Taja Seminar “Pro dan Kontra Transportasi Berbasis Online”

Transportasi "Online" dianggap solusi tetapi tak punya aturan. Harga fix transportasi online sangat membantu mengurangi konflik antara supir dan penumpang. Masyarakat menilai transportasi online sangat efisiensi dari segi waktu dan menjadi salah satu alasan memilih transportasi online daripada transportasi konvensional. Namun di sisi lain terdapat penolakan terhadap kemunculan transportasi berbasis aplikasi atau transportasi online dalam beberapa waktu terakhir semakin bermunculan. Tak jarang penolakan tersebut menggiring pada bentrok dua kubu yang berujung konflik fisik. Keresahan muncul pada pengendara dan pelaku usaha transportasi konvensional karena kemunculan transportasi online dinilai membuat pendapatan mereka turun drastis. Sebagian bahkan hingga gulung tikar. Namun, pada dasarnya, konsumen tak menuntut banyak hal.Sebagai pengguna jasa, mereka menginginkan segi kenyamanan, keamanan dan efisiensi.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka Himpunan Mahasiswa Planologi (HIMPLAN) Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Islam Riau mengadakan Seminar “Pro dan Kontra Transportasi Berbasis Online” khususnya membahas transportasi online yang ada di Kota Pekanbaru pada Hari Sabtu  tanggal 9 September 2017. Seminar mengundang Rahmad Rahim (Kepala BAPPEDA Propinsi Riau), Ir. Marstyawan, MT (Ahli Transportasi dari Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia), Sunarko, ATD, MT (Kepala Bagian Transportasi Darat Kota Pekanbaru), Agus Sikumbang (Sekretaris DPC Organisasi Angkutan Darat Kota Pekanbaru) dan Muhammad Sofwan, ST, MT (Dosen Transportasi PWK FT UIR). Peserta Seminar adalah mahasiswa Prodi PWK FT UIR sebanyak 400 orang, dihadiri oleh Dosen Fakultas Teknik UIR, Ketua Pusat Studi Transportasi FT UIR (Muhammad Zainul Muttaqin, MT) dan perwakilan dari  Organda DPC Pekanbaru. Kegiatan dibuka oleh Ketua Prodi PWK FT UIR Puji Astuti, ST, MT.

Menurut Rahmad Rahim “Permasalahan ini merupakan pekerjaan rumah pemerintah yang perlu waktu lama untuk menyelesaikannya. Sebab, permasalahan ini menyangkut "rebutan" nafkah untuk penghidupan sehari-hari. Selain itu, angkutan umum juga dianggap sudah membudaya di Indonesia. Di samping itu, transportasi konvensional dan online sebetulnya bisa berjalan bersama-sama. Sebab, keduanya memiliki segmentasi konsumen yang berbeda. Konsumen-konsumen kendaraan berbasis online bukan konsumen kendaraan umum biasa. Mereka relatif tidak mengambil para penumpang yang biasa naik angkutan umum,”. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sunarko. Pembicara dari IAP, Marsetyawan mengatakan bahwa Pemerintah harus memiliki blue print atau cetak biru sebagai sebagai perencanaan penataan transportasi di Indonesia. Blue print tersebut kemudian dijalankan oleh kementerian dan lembaga terkait untuk sama-sama menyelesaikan peroalan ini dari segala aspek.

Pada kesempatan tersebut Dekan FT UIR Ir. H. Abdul Kudus Zaini, MT meresmikan penyambutan Mahasiswa Baru Prodi PWK secara simbolis bahwa Maba PWK FT UIR sudah dapat melaksanakan kegitan sebagai mahasiswa yang akan menjalankan studinya selama 3,5 tahun ke depan.

[ Adm-UIR ]