Teknik 18 Nov 2020

Siapkah Transportasi Ramah Lingkungan di Kota Pekanbaru

Seriau,- Transportasi merupakan kebutuhan semua lapisan masyarakat baik kelas atas, menengah dan bawah. Tansportasi abad-21 justru diwarnai ketidakramahan dari transportasi itu sendiri seperti halnya banyak menimbulkan korban jiwa, harta, waktu, kebisingan, merubah wajah kota dan lebih parah lagi kerusakan lingkungan, dalam sekala besar saat ini disebut sebagai Global Warming.

 

Sebuah pembangunan berdimensi lingkungan hidup atau berwawasan lingkungan telah disepakati sebagian besar negara didunia termasuk Indonesia sebagai konsep, strategi dan model diharapkan mampu menjaga pelestarian fungsi lingkungan (Hadi, 2013). Kelancaran pelayanan dan mobilitas merupakan hal penting dalam pembangunan berkelanjutan. Di negara negara Asia sekarang sedang terjadi kesemrawutan dan pencemaran.

 

Kemajuan pesat jumlah kendaraan mengancam keberadaan dari negara negara Asia, jumlah mobil dan sepeda motor yang tidak terkontrol telah mengancam dan mempengaruhi kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan hidup di kota, produktifitas ekonomi dan kesejahteraan sosial pada umumnya. Kini sektor transportasi sudah dikategorikan sebagai sumber penyebab semakin cepatnya proses terbentuknya efek rumah kaca kemudian negara negara Asia diprediksi sebagai negara yang terdepan dalam gelombang peningkatan penggunaan motorisasi yang tentunya diikuti dengan meningkatnya gas emisi kendaraan bermotor (Onogawa, 2012).

 

Dari hasil studi World Health Organization (WHO) 50% sampai 80 % transportasi Kota Metro Manila telah mencemari udara perkotaan setempat. Polusi yang berasal dari kegiatan transportasi kemudian dikaitkan dengan timbulnya beberapa keluhan yang tercatat seperti gangguan saluran pernafasan dan keluhan gangguan pada jantung. Dari hasil studi epidemologi yang berhubungan dengan pencemaran udara diketahui beberapa keluhan seperti asma, bronchitis, serangan jantung dan stroke, data yang lain juga menunjukkan pencemaran udara khusus dari kegiatan transportasi diperkirakan telah mengakibatkan kematian 200.000 orang sampai 570.000 orang setiap tahun di seluruh belahan Bumi (Onogawa, 2007:5). Soemarwoto (2010) di Indonesia pencemaran udara oleh mobil sebagian besar terjadi di Kota Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya dan Medan. Data dari World Bank tahun 1994 khusus Kota Jakarta pencemarannya telah mengakibatkan kerugian kesehatan yang pada tahun 1990 sebesar US$ 97.000.000,- (Sembilan Puluh Tujuh Juta US dollar) sampai  US$ 425.000.000,-(Empat Ratus Dua Puluh Lima Juta US dollar).

 

Kota kota besar didunia menghadapi permasalahan transportasi dengan skala yang berbeda, walaupun secara umum memiliki kesamaan. Wright (2010) dalam Onagawa (2007:2) sektor transportasi yang didominasi oleh moda angkutan jalan raya menyumbang 25% CO2 pada proses global warming. Protokol Kyoto menjadi bukti komitmen sebagian besar negara di bumi ini mengatasi permasalahan pemanasan global termasuk Indonesia. Tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa harapan tidak selalu sejalan dengan keadaan lingkungan yang ada sekarang.

 

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil yang membumbung tinggi dan energi tak terbarukan (minyak, gas bumi dan batu bara) akan habis beberapa puluh tahun mendatang. Bahkan krisis BBM sudah mulai dirasakan saat ini secara global. Saat ini setiap manusia di dunia membakar (menggunakan) 10 liter minyak mentah/hari, tetapi hanya ditemukan 4 liter cadangan minyak mentah baru/hari (carrying capacity sudah berkurang). Jaringan trayek dalam mendukung kelancaran proses produksi, distribusi barang dan penumpang. Tersedianya angkutan alternatif Kendaraan Tidak Bermotor memberikan dampak positif seperti terlayaninya transportasi masyarakat diluar trayek Angkutan Perkotaan (Kudus 2013)

 

Pengelolaan Transportasi Ramah Lingkungan dirasa masih kurang banyak dilakukan berhubung kesadaran dunia akan perlunya Transportasi Ramah Lingkungan baru tercetus setelah dunia mengalami musibah yang beruntun akibat global warming,  keberadaan pelayanan angkutan perkotaan (angkot) sangat terbatas hanya melayani jalur resmi Pasar.  sedangkan untuk jalan arteri dan jalan kecil (jalan gang) yang menghubungkan antara pemukiman dan pasar tradisional yang tersebar di setiap kecamatan agar mengusulkan pengelolaan Transportasi Ramah Lingkungan  langkah relevan yang bisa diterapkan oleh para kusir sebagai pengelola langsung transportasi  (Munawar Ahmad 2013 )

 

Kelancaran pelayanan dan mobilitas merupakan hal yang penting dalam pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berdimensi lingkungan hidup  atau berwawasan lingkungan telah disepakati sebagian besar negara di dunia termasuk Indoensia, sebagai konsep strategi dan model yang diharapkan mampu menjaga kelestarian lingkungan. Alat transportasi paling ramah lingkungan adalah sepeda. Sudah banyak dikembangkan sepeda yang sangat efisien dari sisi energi, bahkan ada yang memiliki solar panel untuk menyerap energi matahari. Sepeda semacam ini dapat digunakan menempuh jarak ribuan kilometer. Untuk transportasi individual bermesin, mobil listrik lebih ramah lingkungan dibanding mobil biasa. Masalahnya, kapasitas baterai dalam menyimpan energi saat ini masih belum sebanyak bensin pada berat yang sama. Nilai optimal baterai ini baru akan tercapai jika menggunakan sel bahan bakar (fuel-cell), di mana energi disimpan dalam air yang dipisahkan (elektrolisa) ke hidrogen dan oksigen. Reaksi hidrogen- oksigen akan menghasilkan energi sangat besar dengan limbah kembali berupa air. Namun teknologi fuel cell saat ini masih sangat mahal (belum layak pasar).

 

Polusi Udara

Polusi udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan. Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Kota-kota besar di dunia menghadapi permasalahan transportasi dengan skala yang berbeda, walaupun secara umum memiliki kesamaan. Sektor transportasi yang didominasi oleh moda angkutan jalan raya, menyumbang 25% CO2 pada proses global. Polusi yang berasal dari kegiatan transportasi ini, kemudian dikaitkan dengan timbulnya beberapa keluhan seperti gangguan saluran pernafasan dan penyakit jantung. Dari hasil studi epidemologi (ilmu yang mempelajari faktor yang mempengaruhi kesehatan dan sakitnya suatu populasi) yang berhubungan dengan pencemaran udara, diketahui beberapa keluhan seperti asma, bronchitis, serangan jantung dan stroke. Data juga menunjukkan bahwa pencemaran udara khusus dari kegiatan transportasi diperkirakan telah mengakibatkan  kematian 200.000 orang  sampai 570.000 orang setiap tahun di seluruh belahan bumi.

 

Polusi Suara

Polusi suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengganggu ketentraman makhluk hidup di sekitarnya. Polusi suara disebabkan oleh suara bising kendaraan bermotor, kapal terbang, deru mesin pabrik, radio/tape recorder yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran. Paling umum dijumpai adalah kendaraan yang lalu lalang, selain polusi udara juga berpotensi membuat polusi suara. Pencemaran suara biasanya diukur dalam satuan dB atau desibel. Pencemaran suara yang bersifat terus-menerus dengan tingkat kebisingan di atas 80 dB dapat mengganggu kesehatan manusia. Berikut ini adalah beberapa dampak negatif dari pencemaran suara yaitu : stres, perubahan denyut nadi, dan tekanan darah, gangguan fungsi jantung, serta kontraksi perut.

 

Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mencanangkan transportasi umum ramah lingkungan.  Hal ini karena Pekanbaru menjadi salah satu dari 7 kota besar yang ada di Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang masuk ke dalam program Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dalam bidang transportasi ramah lingkungan. Wali Kota Pekanbaru, Dr. H. Firdaus, MT menyebutkan sebenarnya Kota Pekanbaru sudah mengarah ke transportasi umum ramah lingkungan. Menurutnya, hal ini harus terus digesa mengingat pertumbuhan penduduk di Pekanbaru. ( kutipan Berita Walikota). Diperikirakan, jika Kota Pekanbaru tak berangsur ke arah transportasi ramah lingkungan, kualitas udara kita semakin buruk. Karena kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi bertumbuh terus. Jika Kota Pekanbaru tak berangsur ke arah transportasi ramah lingkungan, kualitas udara kita semakin buruk. Karena kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi bertumbuh terus,". Disampaikan Walikota, hasil kunjungan ke Jepang beberapa waktu lalu juga melihat perkembangan transportasi umum. Di Tokyo penduduknya 30 juta jiwa, tapi terlihat sepi di pusat Kota. Ramainya di stasiun keretanya. Kendaraan pribadi sangat jarang disana, sehingga kualitas udaranya baik. Ditambahkannya, di Tokyo masyarakatnya baik kalangan atas dan menengah cenderung melakukan perjalanan memakai jasa transportasi umum.

 

"Insya Allah sepuluh tahun lagi kita juga sudah punya MRT bersama kendaraan ramah lingkungan lain. Nah sekarang kita harus mulai membudayakan naik kendaraan umum," imbaunya. Walikota mencontohkan saat ini, mulai akan dioperasikan kendaraan feeder yang masuk ke perumahan warga. Setelah itu akan diantarkan ke Halte Trans Metro Pekanbaru (TMP) dengan satu tiket one a way***

 

Penulis:  Ir.H. Abdul Kudus Zaini, MT, MS,Tr, IPM, Dosen Fakultas Teknik Jurusan Sipil, Dewan Pembina YLPI Universtas Islam Riau

 

Email : abdulkuduszaini@eng.uir.ac.id

[ ADMIN F. TEKNIK UIR. ]